SERUMPUN.ID - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut belum diikuti penguatan nilai tukar rupiah yang tercatat melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/05/2026).
Pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan menilai pelemahan rupiah menunjukkan masih adanya sejumlah sentimen negatif yang menjadi perhatian investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Artinya memang masih banyak faktor-faktor negatif yang dilihat investor, baik domestik maupun global,” ujar Alfred dalam Agenda Market Watch.
Ia menjelaskan bahwa respons pasar terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir dinilai belum sepenuhnya positif. Menurutnya, terdapat kekhawatiran pasar terhadap isu independensi pasar dan besarnya intervensi pemerintah dalam berbagai kebijakan ekonomi.
“Respons pasar terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam beberapa waktu belakangan ini, khususnya di pemerintahan baru, mulai mengerucut pada sejumlah sentimen yang relatif negatif. Misalnya isu mengenai independensi pasar atau intervensi pemerintah yang dinilai cukup besar dan tidak positif. Saya ambil contoh kebijakan-kebijakan yang sering berubah sehingga memberikan ketidakpastian,” jelasnya.
Alfred menilai kondisi saat ini menunjukkan adanya perbedaan antara data fundamental ekonomi domestik dan respons pasar keuangan terhadap nilai tukar rupiah.
“Ya, memang sedikit unik ketika data ekonomi kita relatif cukup bagus, tetapi berkebalikan dengan respons pasar terhadap nilai tukar rupiah. Jadi memang kalau melihat PDB, seolah-olah pelemahan rupiah sekarang menjadi posisi yang relatif murah ketika fundamental kita menunjukkan angka yang cukup bagus,” ungkap Alfred.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi yang dinilai masih baik belum tentu secara otomatis mendorong penguatan rupiah dalam jangka pendek. Menurutnya, pelaku pasar masih melihat adanya risiko terhadap stabilitas nilai tukar domestik.
“Namun, kita tidak bisa melihat itu sebagai sisi positif bahwa rupiah akan menguat hanya karena fundamental kita masih cukup baik atau solid. Yang perlu menjadi concern adalah ternyata realitas di pasar menunjukkan bahwa baik investor domestik maupun global tetap menilai kondisi rupiah kita mengkhawatirkan,” tutupnya.
