SERUMPUN.ID - JAKARTA - Bursa saham Asia memulai perdagangan Senin (4/5) dengan penguatan, didorong optimisme penuh kewaspadaan terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang mulai mereda.
Mengutip Reuters, Presiden AS Donald Trump menyebut pemerintahannya akan mengupayakan pembebasan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz, meski belum mengungkap rincian langkahnya.
Namun, IDNFinancials sebelumnya melaporkan bahwa respon Presiden Trump terhadap proposal 14 poin Iran cenderung negatif, sehingga membuat investor masih bersikap hati-hati.
Kondisi ini menahan pergerakan harga minyak. Kontrak berjangka Brent bergerak stabil di kisaran US$108,30 per barel setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 2% di awal sesi, sementara minyak mentah AS bertahan di sekitar US$102,01 per barel.
Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 0,6%. Penguatan dipimpin Korea Selatan dengan lonjakan indeks KOSPI sebesar 2,6% usai libur panjang.
Indeks Hang Seng di Hong Kong juga naik 1,83%, diikuti STI Singapura yang menguat 0,56%. Sebaliknya, ASX 200 Australia melemah 0,26%.
Aktivitas perdagangan di kawasan relatif terbatas karena bursa Jepang dan China tutup akibat libur nasional, sehingga volume transaksi cenderung tipis.
Secara global, investor bersiap menghadapi rilisan lebih dari 100 laporan keuangan perusahaan di AS, termasuk raksasa seperti Advanced Micro Devices, Super Micro Computer, Palantir Technologies, The Walt Disney Company, dan McDonald's.
Analis Goldman Sachs menilai kinerja laba perusahaan masih cukup solid, dengan pertumbuhan EPS indeks S&P 500 mencapai sekitar 25%, atau sekitar 16% jika tidak memasukkan faktor non-berulang.
Namun, reaksi pasar terhadap kinerja tersebut dinilai relatif terbatas.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi kembali mencuat, terutama akibat tingginya harga energi. Kondisi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan menekan valuasi saham.
Sejumlah bank sentral global juga mulai menunjukkan sikap yang lebih hawkish. Ekspektasi pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran suku bunga yang sangat terbatas dari Federal Reserve hingga akhir tahun.
Bahkan, European Central Bank dan Bank of England masih dipandang memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga, masing-masing 76 basis points (bps) dan 63 bps. (DK/ZH)
