SERUMPUN.ID - Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan melemahnya dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah tercatat naik 62 poin atau sekitar 0,36% menjadi Rp 17.325 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.387 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi perdamaian antara AS dan Iran.
Selain itu, dukungan pemerintah China terhadap upaya gencatan senjata di Timur Tengah turut memperkuat sentimen positif di pasar keuangan global.
“Kondisi tersebut mendorong mayoritas mata uang global menguat terhadap dolar AS, termasuk rupiah,” kata Josua Pardede dikutip dari Antara.
Pemerintah China menyampaikan dukungan kepada Iran di tengah konflik dengan AS. Sikap tersebut muncul bersamaan dengan persiapan Beijing menyambut kunjungan Presiden AS Donald Trump pekan depan.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan penghentian permusuhan secara total sangat penting demi menjaga stabilitas kawasan.
Ia juga menilai memulai kembali konflik bukan pilihan yang dapat diterima sehingga proses negosiasi harus terus dilanjutkan.
Trump Sebut Peluang Kesepakatan Damai Sangat Besar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026. (Dok. AP/Mark Schiefelbein)
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran dalam 24 jam terakhir berjalan sangat baik.
Trump bahkan menyebut peluang tercapainya kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang AS-Israel sangat mungkin terjadi.
“Kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen sangat mungkin tercapai,” ujar Trump.
Saat ditanya terkait batas waktu penyelesaian negosiasi, Trump menegaskan tidak ada tenggat waktu khusus dalam proses pembicaraan tersebut.
Menurut Josua Pardede, dukungan China terhadap gencatan senjata semakin meningkatkan harapan pasar terhadap kemajuan negosiasi antara Washington dan Teheran.
“Pemerintah Tiongkok menyatakan dukungannya terhadap gencatan senjata menyeluruh di Timur Tengah, sehingga meningkatkan harapan terhadap kemajuan negosiasi antara AS dan Iran,” ujarnya.
Membaiknya sentimen geopolitik membuat pelaku pasar mulai mengurangi permintaan terhadap dolar AS yang selama ini menjadi aset safe haven saat ketidakpastian global meningkat.
Data Tenaga Kerja AS Turut Tekan Dolar
Aktivitas penukaran uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar Rupiah pada Kamis (19/3) sore ini bergerak melemah menjadi 15.912 per dolar Amerika Serikat, menyentuh level terlemah sejak krisis 1998. (merdeka.com/Imam Buhori)
Selain sentimen geopolitik, penguatan rupiah juga didorong data ekonomi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Data ADP Employment Change April 2026 menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta AS mencapai 109 ribu. Angka tersebut memang naik dibanding periode sebelumnya sebesar 61 ribu, namun masih lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 120 ribu.
Kondisi tersebut memicu tekanan terhadap dolar AS karena pasar mulai melihat kemungkinan perlambatan ekonomi Negeri Paman Sam.
Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan juga meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve dapat mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter apabila tekanan ekonomi terus berlanjut.
Pelemahan dolar AS kemudian memberi ruang penguatan bagi sejumlah mata uang global, termasuk rupiah.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran serta arah kebijakan ekonomi AS yang diperkirakan akan terus mempengaruhi pergerakan pasar keuangan global dalam jangka pendek.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3080941/original/054674800_1584612278-20200319-Nilai-Tukar-Rupiah-Terhadap-Dolar-AS-Hari-Ini-IMAM-4.jpg)
