SERUMPUN.ID - Konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan biaya impor bahan bakar fosil sebesar 25 miliar euro (sekitar Rp505 triliun) bagi Uni Eropa, kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Jumat (24/5).
Para pemimpin negara Uni Eropa mengelar pertemuan informal di Siprus pada Kamis dan Jumat untuk membahas perkembangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah dan Ukraina, dan Kerangka Keuangan Multitahunan (MFF) periode 2028-2034.
"Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan kita untuk impor bahan bakar fosil telah melonjak lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan energi sedikit pun," kata von der Leyen dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut.
Pada saat yang sama, Uni Eropa sedang mempersiapkan berbagai langkah antisipasi jika situasi ekonomi memburuk dan terjadi kekurangan listrik di tengah krisis energi, kata dia. Menurutnya, situasi saat ini tidak dianggap sebagai hal yang mengerikan.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap banyak target di Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan menewaskan korban sipil.
Iran membalas serbuan tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah hampir menghentikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga menyebabkan kenaikan harga bahan bakar.
