STOXX 600 Ditutup Merah Meski Ketegangan Timur Tengah Mereda

STOXX 600 Ditutup Merah Meski Ketegangan Timur Tengah Mereda
ket foto : Ilustrasi Bursa Saham Eropa

SERUMPUN.ID - Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Kamis, meski berhasil memangkas tekanan jual yang sempat menyeret indeks ke level lebih dalam. Sentimen pasar sedikit membaik setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali jalur perundingan diplomatik.

Indeks pan-Eropa STOXX 600 berakhir turun 0,49 persen atau 3,07 poin ke level 625,11. Mayoritas indeks utama di kawasan turut terkoreksi di tengah sikap waspada investor terhadap perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih menyisakan ketidakpastian.

Indeks DAX Jerman melemah 0,34 persen atau 85,55 poin menjadi 25.092,25. Di London, FTSE 100 Inggris tergerus 0,75 persen atau 79,05 poin ke posisi 10.425,96, sementara CAC 40 Prancis menyusut 0,23 persen atau 19,02 poin menjadi 8.188,87.

Tekanan di pasar sempat mereda setelah laporan media Axios menyebut kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran mulai menemukan titik terang. Meski demikian, kesepakatan tersebut masih membutuhkan persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum dapat diberlakukan secara resmi.

Kabar itu sedikit menenangkan pasar yang sebelumnya diguncang eskalasi militer baru di kawasan Teluk. Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, sementara Washington membalas dengan serangan terhadap fasilitas drone Iran di sekitar Selat Hormuz.

Situasi tersebut sempat memicu kepanikan di pasar energi global. Harga minyak mentah yang sebelumnya melesat akibat konflik mulai memangkas kenaikan setelah muncul sinyal diplomasi baru. Kontrak Brent terakhir tercatat naik tipis 0,3 persen menjadi USD94,68 per barel.

Meski reli minyak mulai mereda, kenaikan harga energi tetap menjadi momok bagi kawasan Eropa yang sangat bergantung pada impor energi. Kekhawatiran terhadap lonjakan biaya produksi dan tekanan terhadap konsumsi rumah tangga masih membayangi prospek ekonomi kawasan.

Analis UBS Global Wealth Management, Kiran Ganesh, mengatakan pasar sebenarnya telah lebih dulu mengantisipasi kemungkinan tercapainya kesepakatan damai sejak awal pekan. Menurut dia, reaksi yang relatif terbatas mencerminkan bahwa sebagian besar sentimen positif sudah terdiskon dalam pergerakan harga saham sebelumnya.

Ganesh menilai investor kini lebih berhati-hati dalam merespons perkembangan geopolitik karena situasi di Timur Tengah masih sangat cair dan berpotensi berubah cepat sewaktu-waktu.

Sejumlah analis pasar juga menyebut laporan laba perusahaan yang lebih kuat dari perkiraan menjadi salah satu faktor yang membantu menopang bursa saham Eropa sejak keterpurukan pada Maret lalu. Kinerja korporasi yang resilien memberi bantalan terhadap tekanan eksternal dari konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.

Namun demikian, ancaman terhadap daya beli masyarakat tetap menjadi perhatian utama. Kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat mengikis konsumsi domestik dan memperlambat momentum pemulihan ekonomi Eropa dalam beberapa kuartal mendatang.(*)

Berita Lainnya

Index