SERUMPUN.ID - Bloomberg, Bursa saham Asia tergelincir dari rekor tertingginya sementara harga minyak mentah merangkak naik seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi ini kembali memicu kekhawatiran atas pasokan energi dan menguji ketahanan reli pasar ekuitas yang terjadi belakangan ini.
Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,9% pada pembukaan perdagangan Jumat (8/5/2026), menyusul bentrokan antara AS dan Iran. Di sisi lain, kontrak berjangka indeks saham AS berhasil menghapus kerugian awal dan diperdagangkan mendatar.
Minyak mentah jenis Brent melonjak 2,3% melampaui US$102 per barel karena kekhawatiran bahwa krisis Timur Tengah akan memperpanjang penutupan Selat Hormuz yang strategis. Dolar AS menguat dan imbal hasil (yield) Treasury 10-tahun mempertahankan kenaikannya seiring memburuknya prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa pasukan Amerika membalas serangan Iran terhadap kapal perusak Angkatan Laut yang tengah berlayar di Selat Hormuz pada Kamis. “Sama seperti kita menghancurkan mereka lagi hari ini, kami akan melakukannya jauh lebih keras, dan jauh lebih keras di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan!” tulis Trump dalam unggahan di media sosial. Dalam wawancara telepon dengan ABC News, Trump menggambarkan tindakan militer tersebut sebagai "sentuhan kasih sayang" dan mengeklaim bahwa gencatan senjata dengan Iran secara teknis masih "berlaku."

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)
Meski pasar saham menunjukkan pelemahan moderat pada Jumat, para pelaku pasar beberapa kali mengabaikan ketegangan geopolitik, yang membantu mendorong saham global ke rekor tertinggi di tengah bangkitnya perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI). Di tengah volatilitas yang terjadi, investor tetap fokus pada tanda-tanda bahwa AS berupaya meredakan situasi.
“Investor saat ini berasumsi akan ada penyelesaian dalam sekitar satu bulan terkait perang Iran atau Selat Hormuz,” kata salah satu pendiri hedge fund Ten Cap Investment Management, Jun Bei Liu. “Dalam jangka pendek mungkin akan ada volatilitas dan berita seperti hari ini, tetapi pasar akan kembali membeli saat harga turun kecuali eskalasi baru menjadi lebih serius.”
AS disebut tengah mempertimbangkan kembali inisiatif untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak melewati Hormuz setelah sebelumnya menghentikan program tersebut pekan ini, menurut laporan Wall Street Journal. Rencana yang dijuluki Trump sebagai “Project Freedom” itu sebelumnya memicu bentrokan dengan Iran serta serangan rudal ke Uni Emirat Arab.
Washington kini menunggu respons Teheran atas proposal pembukaan kembali selat tersebut, sementara ketegangan masih tinggi baik di Teluk Persia maupun Lebanon. Seorang pejabat Iran mengatakan negaranya tidak akan membuka kembali Hormuz dengan “rencana yang tidak realistis,” menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip Press TV.
“Di pasar saham, laju kenaikan memang sangat cepat dengan faktor pendorong yang terbatas, sehingga ketika muncul berita negatif, pasar rentan mengalami aksi ambil untung,” ujar kepala strategi Daiwa Securities Co, Yugo Tsuboi. “Saya tidak yakin optimisme untuk mencapai kesepakatan yang terbangun selama sepekan terakhir akan sepenuhnya hilang setelah kejadian ini.”
Di sisi lain, tarif global 10% yang diterapkan Trump dinyatakan melanggar hukum oleh pengadilan perdagangan federal AS, menjadi pukulan baru bagi agenda ekonomi pemerintahannya dan kemunduran terbaru bagi upaya Trump memberlakukan tarif tanpa persetujuan Kongres.
Meski pelemahan saham mengindikasikan perdagangan Asia pekan ini akan ditutup dengan sentimen negatif, empat sesi sebelumnya justru mencatat saham regional berulang kali menyentuh rekor tertinggi. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 11% sepanjang pekan ini, memperpanjang kenaikan tahunannya menjadi 74%.
Kospi menjadi indeks dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang 2026 karena pelaku pasar bertaruh perusahaan-perusahaan Korea Selatan akan meningkatkan laba sebagai pemasok utama pembangunan infrastruktur AI.
“Sekali lagi, perkembangan geopolitik menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan jangka panjang sama sekali tidak berjalan lurus,” tulis kepala riset Pepperstone Group, Chris Weston. “Trader harus meninjau ulang asumsi mereka mengenai arah konflik dan normalisasi arus kapal melalui Hormuz yang sebelumnya terbentuk dalam beberapa sesi terakhir.”
Dari sisi ekonomi, klaim awal tunjangan pengangguran AS naik tipis setelah sebelumnya turun mendekati level terendah dalam beberapa dekade, menandakan gelombang PHK masih terbatas. Data ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan kenaikan payroll selama dua bulan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam hampir setahun.
Pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 relatif tidak berubah pada pukul 09.15 waktu Tokyo
- Futures Hang Seng turun 0,9%
- Topix Jepang turun 0,7%
- S&P/ASX 200 Australia turun 1,2%
- Futures Euro Stoxx 50 turun 1,1%
Mata Uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah
- Euro stabil di US$1,1731
- Yen Jepang stabil di 156,89 per dolar AS
- Yuan offshore stabil di 6,8060 per dolar AS
- Dolar Australia stabil di US$0,7208
Kripto
- Bitcoin naik 0,2% menjadi US$80.062,63
- Ether naik 0,2% menjadi US$2.292,37
Obligasi
- Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun relatif tidak berubah di 4,39%
- Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun turun 2,5 basis poin menjadi 2,475%
- Imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 4,97%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate naik 1,9% menjadi US$96,60 per barel
- Emas spot naik 0,3% menjadi US$4.699,38 per ons
Artikel ini diproduksi dengan bantuan Bloomberg Automation.
