SERUMPUN.ID - JAKARTA (19 Mei): Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyoroti tingginya kerentanan ketahanan energi nasional di tengah memanasnya konflik geopolitik global, khususnya perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Sugeng, posisi Indonesia saat ini sangat rentan terhadap guncangan energi global karena ketergantungan besar pada impor minyak dan gas.
“Hari ini posisi Indonesia memang sangat-sangat rentan dalam hal energy security. Di minyak dan gas, ketahanan energi kita bergantung pada impor,” ujar Sugeng dalam dialog ‘Navigasi Gejolak Energi Global dan Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan (EBT)’ yang diselenggarakan Forum Dialog Nusantara (FDN) di Perpustakaan Wisma Habibie & Ainun, Jakarta, Minggu (18/5/2026).
Sugeng menjelaskan kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 600 ribu barel per hari. Kondisi tersebut membuat Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap hari.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia turut memberikan tekanan besar terhadap APBN. Menurut Sugeng, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di level 70 dolar AS per barel, sementara harga saat ini sudah menyentuh rata-rata 105 dolar AS per barel.
Sugeng juga menyoroti lemahnya cadangan energi nasional Indonesia. Ia menyebut Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan operasional yang ketahanannya sekitar 21 hari.
“Indonesia tidak punya cadangan nasional. Yang ada hanyalah cadangan operasional yang keandalannya hanya untuk 21 hari,” katanya.
Menurutnya, pembentukan cadangan energi nasional membutuhkan biaya sangat besar karena pemerintah harus menyiapkan dana hingga 7 miliar dolar AS untuk membangun cadangan strategis tersebut.
Dalam forum itu, Sugeng menegaskan transisi energi harus dilakukan secara realistis dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan energi dan kebutuhan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi harus ditopang dengan 1,5 persen pertumbuhan energi,” tegas legislator Fraksi Partai NasDem itu.
Sugeng menilai krisis energi global saat ini tidak hanya dipengaruhi persoalan pasokan, tetapi juga berkaitan erat dengan posisi diplomasi suatu negara dalam menjaga akses terhadap sumber energi dunia. (*)
