Ahli Ekonomi & Bisnis Unand: Rupiah Melemah, Ujian Serius Ketahanan Ekonomi Nasional

Ahli Ekonomi & Bisnis Unand: Rupiah Melemah, Ujian Serius Ketahanan Ekonomi Nasional
ket foto : Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Dr. Hefrizal Handra

SERUMPUN.ID - Padang - Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Dr. Hefrizal Handra menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 hingga Rp17.300 per dolar AS pada akhir April hingga awal Mei 2026. Pada periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi signifikan disertai aksi jual bersih investor asing.

Ia menilai kondisi itu memunculkan pertanyaan apakah Indonesia sedang menghadapi gejolak biasa atau sinyal awal krisis. Situasi saat ini lebih tepat disebut sebagai ujian serius terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Hefrizal menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi faktor global seperti penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga dunia, serta eskalasi geopolitik. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD100 per barel turut memperberat tekanan bagi Indonesia.

“Tekanan global saat ini bersifat persisten dan membuat pelemahan rupiah berlangsung lebih lama. Pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi," ucapnya, Selasa, 5 Mei 2026.

Menurutnya, berdasarkan pendekatan purchasing power parity (PPP), nilai wajar rupiah berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS. Dengan posisi sekitar Rp17.200, rupiah dinilai mengalami pelemahan berlebih atau overshooting sekitar 14 hingga 15 persen.

“Artinya, pergerakan rupiah lebih dipengaruhi sentimen pasar dan arus modal dibandingkan fundamental ekonomi. Kenaikan Credit Default Swap (CDS) juga meningkatkan persepsi risiko investor terhadap Indonesia," ujarnya.

Meskipun demikian, Hefrizal menegaskan kondisi ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis, namun merupakan ujian berat yang perlu direspons serius. Untuk itu pentingnya peran Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas serta memperkuat fondasi ekonomi agar tahan terhadap tekanan global.

Berita Lainnya

Index