SERUMPUN.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (4/5) pagi dibuka di zona hijau. Indeks menguat 45 poin atau 0,68% ke posisi 7.000 pada sekitar pukul 10.00 WIB. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, melihat kondisi ini sebagai optimisme awal pekan di tengah berbagai sentimen ekonomi global dan domestik.
Meski dibuka menguat, para investor dinilai masih bersikap hati-hati (wait and see) dalam mencermati perkembangan berbagai faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi volatilitas pasar ke depan.
Sentimen Eksternal: Fokus pada AS dan Iran
Dari sisi eksternal, perhatian pelaku pasar global tertuju pada dinamika geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Potensi putaran baru pembicaraan diplomatik menjadi sorotan setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian baru melalui Pakistan, meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan ketidakpuasannya.
Selain isu geopolitik, pasar menanti rilis data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam. “Investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan data sektor jasa ISM (Institute for Supply Management),” imbuh Ratna Lim.
Isu War Powers Resolution di AS juga menjadi perhatian, di mana pemerintah AS berpendapat bahwa gencatan senjata sejak 7 April 2026 telah mengakhiri permusuhan, sehingga kebijakan terkait konflik tersebut tidak memerlukan persetujuan baru dari Kongres.
Sentimen Domestik: Banjir Data Ekonomi dan Defisit APBN
Dari dalam negeri, pekan ini akan menjadi periode krusial dengan dirilisnya sejumlah data ekonomi makro. Pada 4 Mei 2026, pasar menantikan data indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, serta angka inflasi terbaru.
Selanjutnya, agenda ekonomi penting lainnya meliputi:
- 5 Mei 2026: Rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) Kuartal I-2026.
- 8 Mei 2026: Rilis data cadangan devisa, indeks harga properti, dan angka penjualan mobil.
Di sisi fiskal, investor memberikan perhatian khusus pada realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Hingga akhir Maret, APBN mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Angka ini menunjukkan pelebaran dibandingkan defisit 0,43 persen pada periode yang sama tahun lalu.
| Indikator APBN (Maret 2026) | Nilai |
|---|---|
| Belanja Negara | Mata Uang Rupiah Rp815 Triliun (Naik 31,4%) |
| Pendapatan Negara | Mata Uang Rupiah Rp574,9 Triliun (18,2% dari Target) |
| Defisit terhadap PDB | 0,93 Persen |
"Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 ini di tengah kekhawatiran akan disiplin fiskal dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi," tambah Ratna.
Proyeksi Teknikal IHSG
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan secara konsisten di atas level psikologis 7.000. Jika skenario ini terjadi, indeks berpotensi bergerak di kisaran 7.020 hingga 7.150. Namun, jika tekanan jual meningkat dan indeks tetap berada di bawah level 7.000, IHSG berisiko kembali menguji rentang dukungan (support) di area 6.750 hingga 6.850. (Ant/E-3)
