Kisah inspiratif Suhartini: Berdayakan perempuan desa lewat inovasi olahan pinang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:12:00 WIB
ket foto : Suhartini dan anggota KWT Melati sedang membuat piring dari pelepah pinang, wadah ramah lingkungan yang dibuat sebagai pengganti wadah styrofoam.

SERUMPUN.ID - Palembang, Di balik rimbunnya kebun-kebun di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, terselip sebuah kisah tentang tangan-tangan ulet yang merajut asa.

Di desa yang berjarak 21 kilometer dari pusat kabupaten ini, buah pinang tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan disulap menjadi motor penggerak ekonomi yang menghidupkan harapan kaum perempuan.

Bukan rahasia lagi jika Desa Sukakarya menyimpan tantangan sosial yang cukup berat. Dari total 1.842 penduduk usia produktif, sebanyak 847 orang (45,89 persen) tercatat tidak bekerja. Lebih dari itu, 584 orang atau 69 persen penduduknya merupakan perempuan rentan secara sosial dan ekonomi, yang banyak di antaranya berpendidikan rendah, terpaksa menikah dini, atau merantau sebagai pekerja migran demi menyambung hidup.

Kenyataan pahit itulah yang mengetuk hati Suhartini. Ia bertekad untuk keluar dari zona nyaman dan membawa perubahan nyata bagi tanah kelahirannya. Titik balik bermula pada 2018 ketika ia mengikuti pelatihan pertanian dan kewirausahaan di Lahat. Berbekal ilmu budidaya dan semangat juang yang tinggi, Suhartini kembali ke desa dan merangkul 15 perempuan untuk mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati.

Langkah awal mereka dimulai dari pekarangan sempit dengan membudidayakan jahe di dalam polybag—sebuah solusi cerdas mengingat Sukakarya rawan dilanda banjir saat musim hujan. Dengan modal patungan Rp10.000 per orang dan sekitar 3.000 bibit jahe, mereka mengolah hasil panen menjadi bandrek hangat. Namun, Suhartini menyadari bahwa ada potensi yang jauh lebih besar yang terabaikan di desanya: pohon pinang.

Sebelumnya, warga kerap menebang pohon pinang begitu saja atau membiarkannya merugi akibat harga jual di tengkulak yang sangat rendah, yakni hanya berkisar Rp4.000 per kilogram (kg), jauh panggang dari api jika dibandingkan harga pasar global yang menyentuh Rp19.000 per kg. Warga bahkan lebih memilih menebangnya untuk kayu bakar saat perayaan 17 Agustus.

Angin perubahan mulai berhembus kencang pada 2021 tatkala PT Pertamina Pendopo Field menghadirkan program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG). Melalui pendampingan dari Pertamina EP (PEP) Pendopo yang berada di bawah payung PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, para ibu di KWT Melati mendapat gemblengan teknis pertanian, pengolahan pinang, hingga diversifikasi produk.

Kini, dari hamparan lahan seluas 15 hektare, Suhartini bersama KWT Melati mampu memproduksi sekitar 900 kg pinang kering dan 200 hingga 300 kg pinang muda setiap bulannya. Buah pinang diolah menjadi komoditas bernilai tinggi seperti kopi pinang, bandrek pinang, dan permen pinang, sementara daunnya disulap menjadi pewarna eco-print yang estetik. Puncaknya, ketika pandemi COVID-19 mendera, racikan herbal pinang dan jahe buatan mereka justru melesat laris manis menembus berbagai daerah.

Dampaknya pun langsung dirasakan secara nyata oleh dapur rumah tangga para anggota. Saat ini, KWT Melati mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp8 juta per bulan, dengan upah produksi Rp12.500 per kg bagi setiap anggota yang terlibat. Kas kelompok pun berputar sehat untuk pinjaman lunak modal pribadi, mulai dari biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga. Dari yang semula hanya 12 orang, kini KWT Melati telah beranggotakan 30 perempuan tangguh.

"Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya," ujar Suhartini.

Berkat ketekunan tersebut, KWT Melati kini menjelma menjadi kelompok binaan yang kerap naik kelas, menjadi langganan pameran regional hingga menembus panggung nasional dan internasional. Suhartini sendiri diganjar apresiasi tinggi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai salah satu dari 20 pahlawan lokal penerima Local Heroes Inspiration Award 2024.

Meski telah menuai manisnya kesadaran kolektif, Suhartini tidak lekas berpuas diri. Ia terus membagikan ilmunya kepada generasi muda dan kelompok tani lain di Musi Rawas agar semangat kemandirian ini terus menjalar luas.

"Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar," tegasnya.

Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa kisah sukses Suhartini adalah bukti sahih bahwa perempuan mampu menjadi motor kemajuan apabila diberikan ruang yang setara.

"Perusahaan, melalui program GEMILANG di PEP Pendopo Field, akan terus berkomitmen merawat ruang-ruang pemberdayaan tersebut agar lahir inspirasi-inspirasi baru di bumi pertiwi," kata dia.

Dengan semangat kemandirian yang terus menyala dari tangan-tangan perempuan desa, kisah Suhartini dan KWT Melati membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah hal biasa menjadi luar biasa, sekaligus menanam akar kesejahteraan yang kokoh bagi masa depan Musi Rawas.

Terkini