SERUMPUN.ID - Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi memutuskan keluar dari keanggotaan OPEC dan OPEC+ demi mengejar visi ekonomi jangka panjang nasional. Langkah strategis dari negara produsen minyak mentah ini murni didasarkan pada kepentingan domestik dan bukan karena alasan politik luar negeri.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed Al Mazrouei menyampaikan kepastian tersebut pada Sabtu waktu setempat, seperti dilansir dari Money. Keputusan ini mengakhiri keanggotaan negara teluk tersebut di OPEC yang telah berjalan sejak tahun 1967 sebelum UEA resmi berdiri.
"Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan produksi nasional dan kemampuan masa depan kami, serta semata-mata didasarkan pada kepentingan nasional Uni Emirat Arab, tanggung jawab sebagai pemasok energi yang andal, dan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas pasar," kata Al Mazrouei.
Evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas produksi masa depan menjadi dasar utama penarikan diri ini. Al Mazrouei menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai langkah berdaulat demi memperkuat ketahanan energi global dan mengembangkan kapasitas sektor domestik.
"Keputusan ini tidak didasarkan pada pertimbangan politik apa pun dan tidak menunjukkan adanya perpecahan antara Uni Emirat Arab dan para mitranya," ujar Al Mazrouei.
Sebelum terjadinya konflik, UEA memproduksi minyak lebih dari 3 juta barrel per hari, namun saat ini turun ke kisaran 1,8 juta hingga 2,1 juta barrel per hari. Di sisi lain, Abu Dhabi memiliki target peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 4,9 juta barrel per hari.
UEA bersama Arab Saudi merupakan anggota OPEC yang sangat berpengaruh karena memiliki cadangan produksi signifikan untuk mengontrol harga global saat terjadi krisis pasokan. Gabungan kapasitas cadangan minyak dari kedua negara tersebut diketahui mencapai lebih dari 4,9 juta barrel per hari.
Keluarnya UEA terjadi di tengah penguatan harga minyak mentah Brent kontrak Juli sebesar 3 persen ke level 109,26 dollar AS per barrel pada Jumat lalu. Kenaikan dipicu spekulasi fokus ulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap konflik Iran setelah bertemu Presiden China Xi Jinping.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni melonjak lebih dari 4 persen menjadi 105,42 dollar AS per barrel. Secara year-to-date, harga minyak Brent sudah meningkat sekitar 74 persen dari posisi sebelumnya.
Pada waktu yang sama, Abu Dhabi mempercepat proyek pembangunan jalur pipa minyak West-East menuju Fujairah yang ditargetkan beroperasi pada 2027. Jalur pipa baru ini dibangun untuk menggandakan kapasitas ekspor Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) sekaligus meminimalkan ketergantungan pada Selat Hormuz.