SERUMPUN.ID - Teheran - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata melalui serangan terbaru di wilayah selatan negara itu. Di saat bersamaan, serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan puluhan orang dan memperburuk situasi keamanan kawasan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa militer AS melakukan “pelanggaran berat” terhadap gencatan senjata dalam 48 jam terakhir melalui serangan di Provinsi Hormozgan, wilayah strategis dekat Selat Hormuz.
“Iran tidak akan membiarkan kejahatan apa pun tanpa balasan dan tidak akan ragu membela bangsa Iran,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran tanpa menjelaskan langkah balasan yang akan diambil, dikutip dari Straits Times, Rabu (27/5/2026).
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan serangan baru terhadap target militer Iran di selatan negara tersebut. Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan operasi itu dilakukan sebagai “serangan bela diri” untuk melindungi pasukan AS dari ancaman Iran.
Menurut Hawkins, target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga hendak menempatkan ranjau laut.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi semalam di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada dekat Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menembak jatuh drone AS yang memasuki wilayah udaranya serta menyerang jet tempur F-35.
Meningkatnya ketegangan tersebut langsung memicu gejolak pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari tiga persen setelah pengumuman serangan terbaru AS.
Di tengah situasi itu, China mendesak semua pihak menghormati gencatan senjata dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik.
“Kami mendesak pihak-pihak terkait memenuhi komitmen gencatan senjata dan menyelesaikan perselisihan melalui cara damai,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataannya saat perayaan Idul Adha menegaskan pengaruh AS di Timur Tengah terus melemah. Ia juga memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak menyediakan pangkalan militer yang dapat digunakan Washington untuk melancarkan serangan.
Meski situasi memanas, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka. Ia menegaskan Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia akan tetap dibuka “dengan satu atau lain cara”.
Konflik juga meluas ke Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel pada 26 Mei menewaskan sedikitnya 31 orang, termasuk empat anak-anak.
Iran menuntut agar setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat juga mencakup Lebanon. Gencatan senjata di negara itu yang berlaku sejak 17 April dinilai gagal menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan berjanji akan “menghancurkan” Hizbullah. Seorang pejabat militer Israel menyebut operasi darat kini diperluas lebih dalam ke wilayah Lebanon.
Sementara itu, upaya diplomatik masih berlangsung. Televisi pemerintah Iran IRIB melaporkan delegasi tingkat tinggi Teheran baru kembali dari Qatar setelah melakukan pembicaraan selama dua hari terkait kerangka perdamaian.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyatakan Iran siap mencapai “kerangka kerja saling menghormati” untuk mengakhiri perang.
Di sisi lain, kantor berita Tasnim melaporkan Iran tengah menyiapkan kesepakatan 14 poin yang mencakup pembebasan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 24 miliar dolar AS.
Situasi domestik Iran juga mulai berubah setelah hampir tiga bulan pembatasan internet nasional. Pemantau internet NetBlocks menyebut konektivitas internet di Iran mulai pulih sebagian pada 26 Mei, mengakhiri salah satu pemadaman internet nasional terpanjang dalam sejarah modern negara tersebut.