SERUMPUN.ID – Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan permusuhan dengan Iran telah diakhiri, situasi konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari dua bulan masih tidak pasti. Sebab, Trump tidak menegaskan mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Selain itu, ribuan anggota pasukan AS belum ditarik dari kawasan tersebut.
Pernyataan mengakhiri permusuhan dengan Iran disampaikan Trump lewat surat kepada Kongres AS, Jumat (1/5/2026) waktu Washington DC atau Sabtu (2/5/2026) WIB. Trump menghadapi tekanan dari Kongres AS terkait perang di Iran. Ia perlu mendapatkan persetujuan Kongres untuk melanjutkan perang.
Namun, situasi di Timur Tengah masih dilingkupi ketidakpastian. Perundingan lanjutan AS dengan Iran yang dimediasi oleh Pakistan belum mencapai kesepakatan. Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak 7 April lalu, kedua pihak tetap terlibat ketegangan dengan menyerang kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan, Iran telah menyerahkan proposal terbaru kepada Pakistan untuk mengakhiri perang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menekankan, mengakhiri perang dan membangun perdamaian berkelanjutan tetap menjadi prioritas utama Teheran dalam negosiasi dengan AS.
Media Iran lainnya, Tasnim, melaporkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berkomunikasi lewat telepon secara terpisah dengan menlu Turki, Mesir, Qatar, Arab Saudi, Irak, dan Azerbaijan. ”Selama percakapan tersebut, Araghchi menginformasikan kepada rekan-rekannya tentang posisi dan inisiatif diplomatik terbaru Teheran yang bertujuan untuk mengakhiri agresi yang dilakukan oleh AS rezim zionis (Israel),” tulis laporan itu.
Perundingan AS-Iran yang dimediasi Pakistan sempat memberi harapan untuk membuka jalan mengakhiri perang. Namun, negosiasi putaran pertama di Islamabad pada 11 April lalu gagal mencapai kesepakatan. Negosiasi putaran kedua pun tidak terwujud setelah AS membatalkan keberangkatan delegasinya ke Pakistan.
AS dan Iran sama-sama ”keras” dengan tuntutan masing-masing. AS ingin Iran mengakhiri program nuklirnya dan membatasi kemampuan rudal balistiknya. Namun, Iran tetap ingin mempertahankannya.
Belum diketahui isi dari proposal terbaru yang diajukan Iran. Namun, Trump dilaporkan tidak terlalu suka dengan proposal tersebut. Hal ini membuat perundingan lanjutan masih belum jelas. ”Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan,” katanya.
Trump telah berulang kali mengancam akan menghancurkan Iran jika perundingan gagal mencapai kesepakatan. Sementara, Iran menegaskan pihaknya tidak menerima negosiasi di bawah ancaman. Perang yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 itu telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran.
Namun, situasi di Timur Tengah masih dilingkupi ketidakpastian. Perundingan lanjutan AS dengan Iran yang dimediasi oleh Pakistan belum mencapai kesepakatan. Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak 7 April lalu, kedua pihak tetap terlibat ketegangan dengan menyerang kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
”Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka (Iran) dan mengakhiri mereka selamanya? Atau apakah kita ingin mencoba dan membuat kesepakatan? Saya lebih memilih untuk tidak mengambil pilihan pertama,” ujar Trump.
Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei mengatakan, negaranya tidak pernah menghindari negosiasi. Namun, pihaknya tidak akan menerima pemaksaan syarat perdamaian sambil berupaya menghindari konflik yang diperbarui.
Ancaman Iran tetap signifikan
Berdasarkan Resolusi Kekuasaan Perang tahun 1973, seorang presiden AS hanya dapat melakukan aksi militer selama 60 hari sebelum mengakhirinya, dengan meminta otorisasi dari Kongres. Di sisi lain, Presiden AS dapat meminta perpanjangan 30 hari dengan pertimbangan situasi militer yang tak terhindarkan, khususnya terkait keselamatan Angkatan Bersenjata AS saat penarikan pasukan.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/02/297fd9409d96a9f2e281efc268bcd8d8-US_POLITICS_ECONOMY_TAXES_SENIOR_RETIREES_137925568.jpg)
AFP/Jim WATSONPresiden AS Donald Trump bersorak gembira menyambut para pendukungnya setelah berbicara tentang pajak dan jaminan sosial di The Villages, Florida, Jumat (1/5/2026).
Senator AS dari Indiana, Todd Young, mengatakan, karena Trump menyatakan konflik Iran telah berakhir, seharusnya tidak ada lagi permusuhan. ”Jika konflik berlanjut, saya berharap Gedung Putih bekerja sama dengan Kongres untuk mengesahkan otorisasi penggunaan kekuatan militer,” ujarnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah senator Partai Republik telah menyatakan Kongres AS harus menegaskan otoritasnya atas perang tersebut. Senator Susan Collins mengatakan, ia ingin melihat strategi yang jelas dari pemerintahan Trump untuk mengakhiri konflik tersebut.
”Otoritas Presiden sebagai panglima tertinggi bukanlah tanpa batas. Batas waktu 60 hari (melakukan aksi militer) bukanlah saran, melainkan sebuah persyaratan,” ujarnya.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/04/30/bc2d251e-8e5b-4da0-bd68-3642ea208d9e.jpg)
AFP/SAUL LOEBMenteri Pertahanan AS Pete Hegseth bersiap untuk istirahat selama sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR AS yang berjudul ”Permintaan Anggaran Departemen Pertahanan FY2027” di Capitol Hill, 29 April 2026.
Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, batas waktu itu belum tercapai. Sebab, AS-Iran menyepakati gencatan senjata pada 7 April 2026. Menurut dia, penghitungan tenggat seharusnya juga berhenti sejak gencatan diberlakukan.